Baca Selengkapnya Di : http://indonesianblog-jmk.blogspot.com/2012/04/cara-membuat-link-otomatis-ketika.html#ixzz2cOCvfD00 Orang Muda Katolik: 2009-03-01

Kamis, 05 Maret 2009

Paus Benedictus XVI Tak Permasalahkan Facebook


[okezone 24/1/09] Keberadaan internet, perlahan mulai mendapat tempat bagi Paus Benedictus XVI. Setelah kemarin membuat kanal khusus di YouTube, kini Paus menyatakan keterbukaanya terhadap situs jejaring sosial Facebook.
Pimpinan tertinggi Umat Katolik ini mengungkapkan, situs jejaring sosial seperti Facebook dan MySpace sah-sah saja digunakan, karena dapat dapat membina persahabatan dan pengertian. Akan tetapi, Paus juga mengingatkan agar jangan mengisolasi diri dan menjadi kaum marjinal.
Seperti yang diberitakan Associated Press (AP), Sabtu (24/1/2009), Paus juga menghimbau untuk semua pengguna internet agar mengirimkan pesan yang mengkampanyekan hari Jumat sebagai Hari Berkomunikasi sedunia.
Kehadiran jejaring sosial menurut Paus dianggapnya sebagai ‘hadiah’ dari teknologi, yang menjadikan komunikasi sebagai kebutuhan mendasar yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat manusia. Paus juga mengingatkan pengembang jejaring sosial untuk tidak menyinggung harkat dan martabat manusia.
Keterbukaan Paus ini juga sebagai bantahan atas adanya keinginan Konferensi Uskup Italia (CEI) yang menyerukan agar Facebook diblokir.
Para pemimpin gereja Katholik itu menilai Facebook bukanlah situs jejaring sosial, tapi situs jejaring individu karena Facebook akan mengarahkan seseorang untuk bersikap mementingkan dirinya. Susetyo Dwi Prihadi -http://pormadi.wordpress.com/2009/01/29/paus-benedictus-xvi-tak-permasalahkan-facebook/

Hidup Bukan VCD Player

Seorang pria membawa pulang truk baru kebanggaannya, kemudian ia meninggalkan truk tersebut sejenak untuk melakukan kegiatan lain. Anak lelakinya yang berumur 3 tahun sangat gembira melihat ada truk baru, ia memukul-mukulkan palu ke truk baru tersebut. Akibatnya truk baru tersebut penyok dan catnya tergores.Pria tersebut berlari menghampiri anaknya dan memukulnya, memukul Tangan anaknya dengan palu sebagai hukuman. Setelah sang ayah tenang kembali, Dia segera membawa anaknya ke rumah sakit.Walaupun dokter telah mencoba segala usaha untuk menyelamatkan jari-jari anak yang hancur tersebut, tetapi ia tetap gagal. Akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan amputasi semua jari pada kedua tangan anak kecil tersebut.Ketika anak kecil itu sadar dari operasi amputasi dan jarinya telah tidak ada dan dibungkus perban, dengan polos ia berkata, "Papa, aku minta maaf tentang trukmu." Kemudian, ia bertanya, "tetapi kapan jari-jariku akan tumbuh kembali?" Ayahnya pulang ke rumah dan melakukan bunuh diri.Renungan cerita di atas.Berpikirlah dahulu sebelum kau kehilangan kesabaran kepada seseorang yang kau cintai. Truk dapat diperbaiki. Tulang yang hancur dan hati yang disakiti seringkali tidak dapat diperbaiki. Terlalu sering kita gagal untuk membedakan antara orang dan perbuatannya, kita seringkali lupa bahwa mengampuni lebih besar daripada membalas dendam.Orang dapat berbuat salah. Tetapi, tindakan yang kita ambil dalam kemarahan akan menghantui kita selamanya. Tahan, tunda dan pikirkan sebelum mengambil tindakan. Mengampuni dan melupakan, mengasihi satu dengan lainnya. Ingatlah, jika kau menghakimi orang, kau tidak akan ada waktu untuk mencintainya waktu tidak dapat kembali; hidup bukanlah sebuah VCD PLAYER, yang dapat di Backward dan Forward. HIDUP hanya ada tombol PLAY dan STOP saja. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang dapat membayangi kehidupan kita kelak; yang berperan besar dalam kehidupan kita adalah "HATI" yang penuh dengan belas kasih dan cinta kasih. Jadikanlah CINTA KASIH sebagai nafas kehidupan kita yang sesungguhnya (diambil dari sumber : www.santamaria.or.id)

Sebuah Permenungan tentang 100% katolik 100% anak bangsa



Latar Belakang Terisolasinya (sadar atau tidak sadar) umat Katolik dalam “keIndonesiaan” yang baru menyebabkan umat Katolik tertinggal dan ditinggalkan. Pemahaman umat Katolik (termasuk gereja) yang terbatas terhadap situasi Indonesia saat ini menyebabkan kurangnya partisipasi (apatisme) umat Katolik dalam masyarakat. Ini menyebabkan gereja dan umatnya lebih memfokuskan kegiatannya pada liturgi (di dalam pagar gereja). Di sisi lain pelayanan pendidikan dan kesehatan Katolik mengalami stagnasi dan cenderung larut dalam tekanan ekonomi. Warna dan nilai Katolik menjadi kabur didalamnya. Sementara diluar pagar gereja terjadi dinamika masyarakat yang begitu tinggi (perubahan), sehingga umat hanya menjadi penonton dan cenderung kehilangan orientasi menyikapi dinamika tersebut. Bagaimana komunitas Katolik (gereja dan umat) melakukan kontemplasi dan introspeksi atas fenomena perubahan saat ini? Perlunya pemahaman nilai Katolik yang “baru” terhadap perubahan yang terjadi di Indonesia secara sosio kultural. Bagaimana umat Katolik dapat ikut didalam mewarnai bangsa Indonesia apabila mereka (umat) menjadi terasing bahkan rendah diri dalam pergaulan masyarakat? Sesungguhnya telah banyak tokoh umat Katolik mewarnai Republik ini, sebut saja; IJ Kasimo, Slamet Riyadi, Yos Sudarso, PK Ojong dan lain lain. Mereka adalah produk pendidikan HIK Muntilan asuhan Romo van Lith. Dapatkah umat Katolik menjadi bangga (tidak rendah diri) untuk mengatakan: “Aku 100% Katolik dan 100% Anak Bangsa”? Bagaimana umat mengambil partisipasi dalam kehidupan kebangsaan? Bagaimana umat Katolik dapat menjadi inspirasi bagi perubahan (menuju perbaikan) itu sendiri? Bagaimana peran gereja dalam menyikapi perubahan dalam bangsa Indonesia? Adakah suatu keinginan gereja untuk mewarnai kehidupan berbangsa melalui umatnya? Sejarah Katolik di Indonesia mencatat; Romo van Lith, Romo Becks, Romo Brouwer, Romo Dick Hartoko, Romo FX Satiman, Romo Mangun dan banyak lagi tokoh keagamaan dari gereja Katolik yang disegani dan dihormati masyarakat Indonesia (mayoritas Islam) karena sikap dan integritasnya. Saat ini umat Katolik memiliki, Romo Sindhunata, Romo Muji Sutrisno, Romo Sandyawan, Romo Frans Magnis Suseno yang diharapkan dapat mewarnai kebijakan gereja dan memberi arah baru kepada umat Katolik dalam menuju Indonesia yang bermartabat, damai dan berkeadilan. Bagaimana visi mereka melihat keIndonesiaan kita yang “baru”? Atau bagaimana mereka menjabarkan nilai nilai Katolik yang “baru” dalam konteks Indonesia yang kusam? Kemanusiaan, Kebangsaan dan KeIlahian Kemanusiaan: harmoni menjadi tujuan dan landasan Sesungguhnya misteri hidup haruslah disyukuri sebagai bagian dari puzzle Ilahi. Kita tidak bisa “memilih” sebagai “apa” atau berperan sebagai “siapa” dalam kehidupan masyarakat. Namun haruslah diingat bahwa harmoni dalam bingkai kemanusiaan merupakan bagian terpenting dari misi kehidupan kita, sebagai umat Katolik. Ini merupakan cara memuji keIlahian dalam hubungan horizontal. Sebagai kemanusiaan kita mengalami kesetaraan dalam harmoni. Harmoni dalam kearifan lokal. Telah lama dirintis oleh misionaris Jesuit (antara lain; Romo van Lith, datang ke Indonesia tahun 1896) dalam mengembangkan pendidikan dan pelayanan kasih. Intinya adalah kasih, kemandirian, pribadi yang teguh pada nilai nilai dan kekaryaan dalam pelayan masyarakat. Mereka berupaya mendalami nilai nilai dalam satu komunitas budaya setempat dalam pelayanan masyarakat. Mereka percaya bahwa dengan memberi pelayanan pendidikan kepada para pribumi merupakan suatu upaya pembebasan rakyat dari penjajahan, kebodohan, kemiskinan dan ketidak adilan. Keberhasilan misionaris Jesuit terjun dalam masyarakat di era penjajahan Belanda mendorong munculnya rasa kebangsaan dan kemanusiaan tumbuh subur dikalangan murid murid asuhan romo Jesuit di Muntilan, antara lain; Djajoes (Mgr Djojosapoetro SJ), Soegijo (Mgr. Sooegijopranoto SJ) dan IJ Kasimo. Kebangsaan dalam Pemulihan Martabat dan Kesetaraan Katolik sebagai gerakan kemerdekaan, dapat dicatat bahwa Muntilan merupakan salah satu pijakan terpenting bagi perkembangan umat Katolik di Indonesia. Sejak awal sejarah berkembangnya agama Katolik di Indonesia ,yang sudah mendekati 500 tahun, berjalan seiring dengan pasang surut sejarah bangsa. Sepanjang itulah interaksi dalam kesejarahan terjadi. Seiring dengan sejarah bangsa Indonesia, masyarakat Katolik turut berpartisipasi didalam proses kemerdekaan. Pendidikan Katolik kepada segelintir anak anak pribumi di Jawa (HIL Muntilan) berhasil membentuk rasa percaya diri dan keyakinan akan suatu nilai nilai kemanusiaan yang harus diperjuangkan lewat kemerdekaan. Mereka ikut berperan serta bersama pemuda yang lain dalam revolusi kemerdekaan. Di berbagai bidang, umat Katolik mendapatkan tempat yang terhormat karena kualitas kemanusiaannya. Di era revolusi kemerdekaan ini umat Katolik mendapat tempat yang layak di masyarakat. Pada 21 Juli 1947, Mgr Soegijopranoto menyerukan kepada umat Katolik untuk mendukung upaya pencapaian kemerdekaan bangsa. Umat Katolik harus ikut memberi dukungan kepada Republik. Salus Populi Suprema Lex (kesejahteraan rakyat adalah kepentingan tertinggi), begitulah ideologi umat Katolik dalam politik bangsa. Keteguhan, kejujuran, disiplin, pelayanan menjadi karya kasih di masyarakat merupakan karakter/ciri utama masyarakat Katolik. Pusat pelayanan publik seperti rumah sakit dan sekolah menjadi rujukan kualitas bagi masyarakat luas. Nilai nilai inipun tercermin dalam hadirnya tokoh-tokoh Katolik yang disegani oleh masyarakat luas. Mereka rata rata dikenal sebagai sosok yang jujur, teguh, disiplin, pelayanan dan dedikasi. Pertanyaan kita hari ini adalah, apakah kita tidak merasa bahwa semua karya pendahulu kita akan sia sia hanya karena kita semua sudah merasa mapan? Empati, kesetia kawanan dan pelayanan menjadi menurun ditengah umat Katolik pada saat ini, diakibatkan karena kita telah kehilangan nilai nilai kita sendiri (disorientasi). Saat ini sangatlah tepat bagi kita untuk merenungkan kembali jejak umat Katolik dalam sejarah bangsa Indonesia. Ini diperlukan untuk mendapatkan titik orientasi “baru” (back azzimut) umat Katolik “baru” dalam ke Indonesiaan yang “baru”. Ini saatnya kita melihat masa depan Indonesia menjadi lebih cerah. Ini merupakan sebuah kemerdekaan kedua, sebuah momentum penting bagi perjalanan umat Katolik kedepan dan bangsa itu sendiri. Kita harus melakukan kontemplasi akan nilai nilai Katolik yang kita yakini; kasih, pengampunan dan pelayanan. Menggali kembali nilai nilai “100% Katolik dan 100% Indonesia” sebagai perekat bangsa dan sebagai sebuah momentum kebangsaan. Pemulihan kesetaraan akan berlangsung efektif apabila setiap figur pribadi umat Katolik dapat menjadi garam bagi masyarakatnya. Idealnya umat Catholic memiliki Figur yang merdeka, percaya dan teguh kepada nilai-nilai kemanusiaan, percaya pada pelayanan kasih bagi sesama. Permenungan kepada kita semua saat ini adalah, apakah kita semua paham dan sadar bahwa ke Indonesiaan saat ini sedang dalam perubahan besar? Sudahkah kita memaknai ini sebagai tantangan dan misi kita sebagai umat dalam suatu bangsa? KeIlahian, Hidup dalam Mission Perwujudan nilai nilai Katolik dalam masyarakat dapat diwujudkan dalam nilai nilai dan perilaku yang bersifat partisipasi aktif. Dalam mendorong masyarakat menjadi bermartabat umat Katolik ikut berperan aktif. Bagi umat Katolik, sesungguhnya hidup adalah mission bagi setiap individu manusia. Memuliakan martabat manusia secara ke-Ilahian adalah perwujudan nilai nilai utama umat Katolik. Menjadi inti dari kualitas dan jati diri manusia seutuhnya. Itu sebabnya, saat ini, umat Katolik harus dapat menempatkan kembali nilai nilai “baru” yang segar, atraktif, memiliki karakter dan kepribadian yang berkualitas. Sungguh tidak mudah karena Indonesia saat ini sedang dalam perubahan besar menuju suatu masyarakat demokrasi. Ini terjadi karena tantangan umat Katolik di depan merupakan momentum besar bagi mission keumatan maupun sebagai mission warga negara Indonesia. Mission terbesar kita adalah mengangkat martabat bangsa lewat nilai nilai Kristiani dalam pelayanan dan kasih kemanusiaan. Sesungguhnya nilai nilai kasih dalam kemanusiaan merupakan wujud kerpercayaan kita akan adanya Allah Pengasih. Pelayanan kasih secara horizontal merupakan pencerminan keimanan Kristiani dalam hubungan ciptaan-Nya secara vertikal dengan penciptaNya. Oleh karena itu sikap penting umat Katolik saat ini adalah mereposisi kembali nilai nilai Katolik dalam era global dan lokal. Seiring hal tersebut perlu dikedepankan nilai nilai Katolik yang berintikan pelayanan, kasih dan pengharapan di segala bidang masyarakat. Pertanyaan utama kita saat ini adalah seberapa jauh kita menyadari bahwa kita telah “tersesat” dalam ke-Indonesiaan yang “baru”? Atau seberapa jauh kita menyadari bahwa sebagai warga negara kita wajib melakukan hal terbaik dari nilai-nilai Kristiani yang kita miliki sebagai bagian pengabdian kita kepada rakyat dan bangsa Indonesia? Pertanyaannya: Bagaimana menurut pendapat teman-teman tentang 100% katolik 100% anak bangsa yang dimiliki oleh OMK kita saat ini? (http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?t=5474)

Uskup Dorong Orang Muda Katolik Terlibat dalam Kehidupan Politik



INDONESIA - 2008-8-22 BATURADEN, Jawa Tengah (UCAN) -- Ketika bangsa Indonesia mempersiapkan pemilihan umum (Pemilu) yang akan berlangsung bulan April mendatang, uskup Purwokerto mendorong orang muda Katolik di keuskupannya agar berpartisipasi secara aktif dalam politik.
"Anda semua adalah masa depan di wilayah Keuskupan Purwokerto ini," kata Uskup Julianus Sunarko SJ kepada sekitar 100 orang muda dari semua 23 paroki di keuskupan yang menghadiri sebuah seminar baru-baru ini.
Komisi Kepemudaan dan Pastoral Mahasiswa Keuskupan Purwokerto menyelenggarakan seminar yang berlangsung 9-10 Agustus itu di Rumah Pastoral Hening Griya di Baturaden.
Tema seminar, “Kaum Muda Feat. Politik,” mencerminkan kepedulian uskup untuk mempersiapkan orang muda menjelang Pemilu yang akan diadakan 9 April 2009.
Banyak orang, termasuk umat Katolik, menganggap politik itu kotor, kata uskup, tetapi ”pandangan semacam itu tidak benar.” Sebaliknya, ”politik adalah seni mengatur kehidupan bersama untuk kesejahteraan bersama dan ini yang penting untuk dipahami,” jelasnya.
Ceramahnya, yang membuka seminar itu, mendorong orang muda Katolik agar bergabung dengan partai-partai politik, namun ia menyarankan, ”Yang penting bertanya apakah partai yang akan saya ikuti mewujudkan perdamaian dan keadilan bagi bangsa atau tidak.”
Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyetujui 38 partai politik yang akan bersaing dalam Pemilu mendatang, dan menetapkan masa kampanye selama sembilan bulan, mulai 8 Juli.
Setelah ceramah uskup, ceramah-ceramah lainnya disampaikan oleh Pastor Petrus Pramudyarkara SJ dari Komisi Kemahasiswaan Keuskupan Agung Semarang, Pastor Paulus Christian Siswantoko, yang mengetuai Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Purwokerto, dan Fransiskus Assisi Agus Wahyudi, mantan anggota KPU Kabupaten Banyumas. Ceramah-ceramah ini dilanjutkan dengan sejumlah sesi diskusi.
Pastor Pramudyarkara menjelaskan sikap Gereja tentang keterlibatan dalam politik, khususnya mengutip sejumlah dokumen tertentu dari Konsili Vatikan Kedua (1962-1965): Gaudium et Spes (“Konstitusi Pastoral tentang Gereja dalam Dunia Modern”), Lumen Gentium (“Konstitusi Dogmatis tentang Gereja”), dan Apostolicam Actuositatem ("Dekrit tentang Kerasulan Awam").
Gereja harus terlibat dalam politik, katanya, "untuk membangun kehidupan politik yang sungguh manusiawi ... daripada menumbuhkan semangat batin keadilan dan kebaikan hati serta pengabdian demi kesejahteraan umum" (Gaudium et Spes 73).
Tugas khusus umat Katolik, lanjutnya, adalah “menyinari dan mengatur semua hal-hal fana, yang erat-erat melibatkan mereka, sedemikian rupa, sehingga itu semua selalu terlaksana dan berkembang menurut kehendak Kristus, demi kemuliaan Sang Pencipta dan Penebus” (Lumen Gentium 31).
Ia juga menekankan bahwa “hendaknya orang-orang Katolik yang mahir di bidang politik, dan sebagaimana wajarnya berdiri teguh dalam iman serta ajaran kristiani, jangan menolak untuk menjalankan urusan-urusan umum” (Apostolicam Actuositatem 14).
Pastor Siswantoko berbicara tentang kekerasan yang terjadi di tanah air. Ia mendefinisikan kekerasan sebagai tindakan yang mengakibatkan penderitaan fisik dan psikis bagi individu atau kelompok, dan menegaskan bahwa "ini semakin marak di tanah air." Tanggapan kita, katanya, hendaknya "melawan kekerasan dengan tindakan tanpa kekerasan seperti dialog."
Wahyudi mengatakan kepada orang muda itu bahwa Pemilu merupakan sebuah manifestasi dari demokrasi, tetapi ini hanya bisa terwujud jika seluruh masyarakat berpartisipasi secara aktif. “Orang muda Katolik jangan hanya menjadi penonton,” kata pria awam berusia 43 tahun itu.
Seusai seminar, peserta mengatakan kepada UCA News bahwa mereka sekarang melihat politik dalam terang baru dan siap memberikan penyadaran politik di tempat mereka masing-masing.
Brigita Dewi Yuliantari Rahmawati mengakui: "Mulanya saya tidak tahu tentang politik, bahkan saya alergi. Tetapi seminar ini memberi cara pandang baru." Wanita berusia 29 tahun dari Paroki St. Agustinus di Purbalingga, 20 kilometer tenggara Baturaden, itu mengatakan bahwa ia akan "mendorong teman-teman muda agar mau aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial sehingga mereka bisa memahami masalah sosial."
Maria Frista, 20, dari Paroki Hati Kudus Yesus di Tegal, sekitar 50 kilometer utara Baturaden, mengaku bahwa ia merasa tidak yakin bahwa suaranya punya arti dalam Pemilu lima tahun lalu, maka ia tidak menggunakan hak suaranya. Namun sekarang, katanya, "saya tahu bahwa perubahan itu ditentukan oleh kita." Frista berjanji untuk bekerja bersama teman-temannya untuk mengadakan seminar-seminar tentang politik bagi orang muda di parokinya (diambil dari http://www.ucanews.com/2008/08/22/indonesia-uskup-dorong-orang-muda-katolik-terlibat-dalam-kehidupan-politik/)