Baca Selengkapnya Di : http://indonesianblog-jmk.blogspot.com/2012/04/cara-membuat-link-otomatis-ketika.html#ixzz2cOCvfD00 Orang Muda Katolik

Rabu, 15 April 2009

Paskah


Apa itu paskah? Banyak orang Kristiani yang merayakan paskah, namun tidak mengetahui arti dan makna paskah itu sendiri. Ada sebagian umat yang sekedar ikut-ikutan merayakan paskah tanpa tahu dan maksud di balik peristiwa paskah itu.
Paskah merupakan karya keselamatan Allah yang diberikan kepada kita semua melalui Putra-Nya, Tuhan Yesus Kristus, yang rela memikul salib-Nya yang berat demi menebus dosa kita.
Kita sebagai umat Kristiani banyak yang tidak menyadari betapa sengsara-Nya Yesus ketika Ia disalibkan. Yesus puasa selama 40 hari untuk menyiapkan segala sesuatunya, hingga saatnya tiba. Pada malam sebelum sengsara-Nya, Yesus mengadakan perjamuan terakhir, dimana di dalam perjamuan itu yesus membasuh kaki kedua belas para murid-Nya. Peristiwa itu menandakan bahwa Yesus mau melayani. Setelah pembasuhan kaki para rasul dilanjutkan dengan perayaan ekaristi dimana Yesus membagikan Roti dan Anggur kepada murid-murid-Nya. Roti melambangkan Tubuh dan Anggur melambangkan Darah-Nya, sehingga pada perayaan ekaristi saat ini mengingatkan kita pada perjamuan terakhir Yesus.
Dalam tradisi Gereja Katolik, peristiwa paskah diawali dengan serentetan persiapan mulai sejak Rabu Abu hingga Kamis Putih selama 40 hari dengan pantang dan puasa. Peristiwa pantang dan puasa ini terjadi dalam masa prapaskah. Dalam masa ini, kita harus mengintrospeksi diri untuk mengenang Sengsara Yesus. Kita juga diharuskan, pertama, berpuasa/berpantang setiap hari Jumat, dan untuk menahan nafsu, supaya pada hari paskah kita menjadi suci kembali, kedua, jalan salib yang mengingatkan kita betapa sengsara-Nya Yesus.
Demikian saya mencoba memaknai paskah sebagai suatu karya keselamatan yang Tuhan berikan kepada saya, sehingga saat ini saya masih dapat merasakan buah karya-karya Yesus dan dapat berkumpul bersama orang yang saya sayangi (Monica Meliana Hartini)

Mea Culpa

Salah satu dari mereka adalah aku
di antara orang orang yang bersorak
mengacung acungkan tangkai palma
mengelu elukan seorang pembrontak
yang akan merenggut 3 jam kuasa gelap
meretas pembatas antara aku dan kamu
kujalani 3 hari penantian duka
dalam harap harap cemas
antara takut kehilangan dan takut ditinggalkan
di Getsemani kukutuki diriku
pantaskah aku memanggil namaMu
sedang aku yang mengantar kuburmu
kujalani 3 hari ke depan dengan penantian
pantaskah aku ikut merayakan kemenangan
Mea Culpa
Mea culpa
Mea maxima culpa!
Selamat Paskah!

“Makna Paskah bagi Kaum Muda”


Sebelum menyambut hari Paskah, kita melewati masa prapaskah sebagai masa pertobatan. Dalam masa prapaskah kita, kaum muda, diajak untuk ikut serta dalam berpantang dan berpuasa selama 40 hari. Prapaskah merupakan masa yang penting untuk dikenal oleh kita, kaum muda. Bahwa ternyata tidak banyak kamu muda yang mengerti dan memahami makna dan manfaatnya, “kaum muda engga ta’u apa makna masa prapaskah”. Saat kita telah memulai memilih untuk berpantang atau berpuasa, kerap kita memotong atau membatalkan bahkan sampai tidak berpantang dan berpuasa lagi. Kita kaum muda belum bisa menghidupi pantang dan puasa dengan sepenuh hati.
Tantangan lain yang kerap mengurangi makna pantang dan puasa adalah pengendalian emosi yang lemah. Kita mudah tergoda. Lalu, untuk apa kita rajin berdoa, mencoba berpantang, dan berpuasa dengan maksud memperdalam iman kita, tetapi kita kerap kalap dan tidak peduli dengan perasaan orang lain di sekitar kita. Contohnya :
1. Kita kaum muda sering ga’ bisa menahan marah
2. Suka banget tu ngomongin orang lain
3. Suka banget mincing-mancing orang lain biar marah
Bagaimana jika perasaan dan perilaku yang muncul seperti yang terungkap di atas. lalu, apa arti berdoa, apa arti pantang dan puasa yang kita lakukan???

Paskah Sudah Tiba
Kaum muda Katolik, Paskah sudah tiba. Di tengah kebahagiaan dan sukacita paskah, Marilah kita, kaum muda, menyadari sikap dan perbuatan yang pernah kita lakukan dengan berani memilah-milah mana yang baik dan yang tidak baik.
Paskah yang kita rayakan menggambarkan kemenangan Yesus Kristus melawan belenggu dosa dan maut. Dengan mengetahui arti paskah ini, harapannya kita semakin disadarkan untuk bangkit dari keterpurukan dosa, serta berani melangkah maju sebagai pribadi baru penerus Gereja. Kita juga diharapkan bisa semakin memantapkan iman dan semangat untuk mantap dalam berkegiatan di gereja.
Oleh karena itu makna paskah tidak sekedar kemeriahan liturgis Gerejani, melainkan suatu peristiwa iman yang menyentuh relung-relung hati kaum muda, dan akhirnya menggerakkan aksi nyata kaum muda menuju perubahan. Semoga semangat paskah menjadi acuan bagi kita untuk berbagi sukacita dengan sesama, memberikan peneguhan dalam pengharapan dan melayani dalam kerendahan hati (annie-mudika Stasi Wiradesa).

Selasa, 14 April 2009

Kelinci Dan Telur Paskah

Kelinci Paskah adalah makhluk fiktif yang digambarkan sebagai seekor kelinci antropomorfis (yang memiliki karakter-karakter manusia). Menurut legenda, kelinci paskah membawa keranjang yang penuh berisi telur, permen, dan mainan yang bewarna-warni ke rumah anak-anak pada malam Paskah. Kelinci Paskah itu akan entah menaruh keranjang tersebut di suatu tempat atau menyembunyikannya di dalam rumah anak itu agar supaya sang anak keesokan paginya mencarinya. Kelinci Paskah memiliki kemiripan-kemiripan dengan Sinterklas yang membawa hadiah untuk anak-anak yang tidak nakal pada malam sebelum hari Paskah/Natal. Sumber legenda tersebut bervariasi, namun kelinci tersebut sudah dikenal sejak 1600; beberapa sumber menyebutkan legenda tersebut berasal dari mitos kesuburan, sementara yang lain menghubungkannya dengan peranan kelinci di dalam ikonografi Kristen.

Asal muasal
Asal muasal Kelinci Paskah sebagai simbol Paskah dapat dilacak dari kawasan Alsace dan barat daya Jerman, tempat kelinci tersebut disebut untuk pertama kalinya pada tahun 1600-an. Kelinci Paskah yang berbentuk makanan pertama kali dibuat di Jerman pada awal 1800-an dan terbuat dari bahan kue dan gula.\
Kelinci Paskah kemudian diperkenalkan ke Amerika oleh para imigran Jerman yang mendarat di Pennsylvania Jerman pada tahun 1700-an. Kedatangan Osterhase — atau terwelu Paskah dalam bahasa Jerman — pada malam Paskah merupakan salah satu "kegembiraan anak-anak yang terbesar", hampir sama dengan kedatangan Christkindl — Sinterklas yang dikenal oleh orang-orang Austria dan Bavaria — pada malam Natal.
Menurut tradisi, anak-anak membuat sarang kelinci yang bewarna-warni di pojok tersembunyi di rumah mereka. Lalu jika anak-anak tersebut tidak nakal, Osterhase akan bertelur telur bewarna-warni di sarang tersebut. Saat tradisi tersebut mulai menyebar, sarang tersebut diproduksi menjadi keranjang Paskah, dan menempatkan sarang di tempat tersembunyi berubah menjadi tradisi menyembunyikan keranjang/telur Paskah.

Kelinci dan terwelu
Karena burung bertelur dan kelinci melahirkan anak yang banyak pada permulaan musim semi, maka telur dan kelinci menjadi simbol kesuburan tanah pada musim semi.
Dalam bahasa Inggris terdapat perkataan "gila seperti terwelu Maret" (Mad as a March hare) untuk menyebut orang yang tindakannya liar dan tidak dapat ditebak bak "terwelu Maret". Peribahasa ini merujuk pada terwelu (kelinci liar) jantan yang berkelahi memperebutkan terwelu betina pada awal musim semi (sekitar bulan Maret). Karena sang betina awal-awalnya akan melawan sang jantan yang mencoba mengawininya, maka gerak-gerik mereka seperti layaknya tarian gila yang jauh dari kebiasaan mereka yang biasanya pendiam. "Kegilaan" tersebut termasuk: bertinju dengan terwelu lain (baik antar jantan maupun betina-jantan), melompat secara vertikal seakan-akan tanpa alasan apa-apa, dan secara umum menunjukkan tingkah laku yang abnormal. Karakter Terwelu Maret dalam cerita "Alice's Adventure in Wonderland" juga diambil dari perkataan tersebut.
Kelinci dan terwelu merupakan binatang yang cepat berkembang biak. Betinanya dapat mengandung kandungan kedua sewaktu masih mengandung kandungan yang pertama. Fenomena ini disebut dengan istilah "superfetasi". Mereka dapat berkembang biak sejak muda dan betinanya dapat melahirkan beberapa kali dalam setahun, sehingga ada perkataan "beranak seperti kelinci". Tidak mengherankan kelinci dan terwelu menjadi simbol kesuburan.

Telur
Dalam tradisi gereja, umat Katolik tidak diperkenankan memakan telur selama puasa masa pra-Paskah, sehingga telur menjadi salah satu menu utama hidangan Paskah. Kaum Protestan Jerman yang tidak mau mengikuti tradisi berpuasa tersebut masih tetap memakan telur pada perayaan Paskah.
Tradisi mewarnai telur telah berlangsung lama. Banyak orang Kristen Ortodoks yang mewarnai merah telur Paskah mereka, yang melambangkan darah Kristus dan hidup baru yang terkait dengan musim semi. Warna telur hijau melambangkan tunas-tunas yang baru yang muncul pada permulaan musim semi.
Telur sejak dulu merupakan simbol kesuburan. Ide tentang kelinci yang bertelur datang dari Amerika Serikat pada abad ke-18. Kaum imigran Jerman di Pennsylvania Jerman memakai istilah Terwelu Paskah seperti yang digunakan nenek moyang mereka di Eropa, bukan Kelinci Paskah. Legenda di kalangan mereka, antara lain yang diceritakan oleh Jakob Grimm pada tahun 1855, menceritakan tentang Osterhas yang bertelur di sarang bewarna-warni yang disediakan oleh anak-anak yang tidak nakal.
Legenda Jerman tentang kelinci atau terwelu yang bertelur diperkirakan berasal dari cerita rakyat tentang telur terwelu yang nampaknya merupakan kesalah kaprahan. Terwelu mengasuh anak-anak mereka di atas tanah, tidak di dalam lubang seperti kelinci. Terwelu menggunakan semacam sangkar yang mirip dengan sangkar burung Lawpings. Pada musim semi, penduduk melihat telur burung di sangkar burung yang dikira adalah telur terwelu.
(www.yahoo.com/Kelinci dan Telur Paskah paskah_sabda_org.html).

Tablo Kisah Sengsara

Jumat pagi, 10 April 2009 Gereja ramai. Beberapa orang sudah mulai sibuk memilih-milih kostum yang hendak ia pakai, sementara di sisi lain beberapa ibu mulai membuka peralatan make up untuk merias para pemain.
Pagi ini, Gereja St. Petrus akan mengadakan visualisasi Kisah Sengsara Yesus Kristus yang mengambil tempat di dalam gedung gereja. Visualisasi kisah sengsara di mulai pukul 07.00 WIB maka tidak heran apabila 1 jam sebelumnya, beberapa ruang di lt. 2 telah penuh dengan orang yang hendak "dandan".
Visualisasi Kisah sengsara ini baru diadakan tahun ini, 2009, setelah beberapa tahun lalu sepi. Ini menjadi suatu jawaban atas kerinduan umat yang ingin merenungkan kisah sengsara Yesus Kristus secara lain. Dengan berbagai keterbatasan, waktu latihan, sulitnya mencari pemain, mereka berusaha untuk mempersembahkan diri secara maksimal. Selain itu kami bersyukur pula bahwa banyak umat yang turut terlibat dalam proses persiapan visualisasi ini sehingga visualisasi dapat berjalan dengan lancar.
Kisah Sengsara Yesus Kristus menjadi suatu permenungan amat dalam yang mengantar kita untuk bertolak lebih dalam pada suatu kekelaman derita. Bahwa dalam kekelaman derita itu ternyata ada keselamatan. Keselamatan itu datang dari Allah melalui Yesus Kristus yang menjadi manusia, hidup setaraf manusia, dan dengan kesediaan yang dalam Ia merelakan diri mati di salib demi mengangkat kita semua manusia berdosa. Inilah kegetiran yang dialami oleh Yesus sewaktu berdoa di taman Getsemani, "Bapa telahelah Kujalani hingga hari ini semua yang Kau rencanakan untuk-Ku. Sejak Kau kirim Aku ke rahim perempuan itu hingga Aku lahir sebagai anak manusia yang miskin dan lugu. Telah Kulakukan pula berbagai pekerjaan ajaib demi nama-Mu sebab tetap Ku pegang seutuhnya janji-Ku untuk setiap sampai Kurampungkan semua itu dipuncak Golgota. Tapi malam ini Kusaksikan akhir yang mengenaskan terbayang dibawah cahaya bulan. Ku raba tubuhKu yang fana, “Aku ini manusia dengan daging yang mudah luka”. Genggam jantung-Ku dan hitung denyutnya sebanyak itulah ketakutanKu pada salib dan siksa. Tapi Aku sudah tidak mungkin lagi tidak peduli. Aku telah mengenal dengan baik kehidupan manusia dengan lembah-lembah duka yang menganga serta lekak-liku yang paling gulita dari hidup mereka. Telah Kupercayakan mereka yang Kubawa pada cahaya. Maka, seperti lahir di puncak Golgota akan Kuhadirkan cahaya di hati mereka hingga tubuh-Ku habis menguap dan lenyap di udara".

Semoga kita diteguhkan untuk semakin setia mengikuti-Nya, berani memikul salib, dan berani mempersembahkannya bagi Allah, serta mempersatukan-Nya dengan kehendak Allah, Sang Sumber Hidup (frtri)

Senin, 06 April 2009

Tablo Kisah Sengsara

Pengumuman


Inilah Kisah Sengsara Yesus Kristus

yang terkemas dalam sebuah drama sederhana

Drama kehidupan yang bercermin dari Sang Penyelamat

Yesus Kristus

Hari/tanggal, Jumat, 10 April 2009. Tablo akan diadakan pada pukul 07.00 WIB di Gereja St. Petrus Pekalongan.

Marilah kita merenungkan wafat Kristus di salib

dengan berdoa bersama kami dalam Tablo Kisah Sengsara tersebut.


Semoga kita terbantu dalam memaknai Misteri Paskah bagi hidup kita.


COme n pray with us.......

(frtri)

Kamis, 02 April 2009

Bonum Commune

Pemaknaan kembali tentang esensi politik
bonum commune



Manusia adalah zoon politicon kata seorang filsuf Yunani Kuno, Aristoteles. Kata tersebut mendefinisikan bahwa manusia adalah makhluk yang berpolitik. Ada juga yang mengartikan bahwa manusia tak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Dari ungkapan itu ada kata yang pantas kita cermati bersama, yakni “Politik”. Kata mengandung makna sangat luas. Bayangkan saja peristiwa akhir-akhir ini, beramai-ramai orang berkampanye, bendera-bendera partai terpajang di setiap pinggiran jalan, masyarakat berlomba hadir dalam setiap kampanye partai dengan pamrih uang, di sisi lain para wakil rakyat mengumbar janji dan program kerja atas nama bangsa dan negara. Mereka sedang berpolitik. Kata Politik sungguh menyiratkan beragam dinamika. Politik bisa menjadi sesuatu yang sangat kejam tapi kita perlukan karena kita tidak bisa hidup tanpa berpolitik dengan orang lain.
Makna politik secara leksikal dipahami sebagai suatu kegiatan dalam negara untuk mengurus kesejahteraan warga negara. Kesejahteraan warga negara tersebut tampak dalam perwujudan hak-hak seseorang sebagai warga negara sebagai gambaran politik secara luas. Namun dalam pelaksanaannya apakah sudah demikian? Tujuan etis dari kegiatan politik adalah untuk dehumanisasi (menghumanisasikan hidup). Artinya dengan berkegiatan politik manusia semakin berkembang untuk mewujudkan hak-hak dan melaksanakan tanggung jawabnya sebagai warga negara[1]. Pemaknaan prinsip dan tujuan politik itu sebenarnya selalu murni. Namun terkadang muncul persepsi lain bahwa politik itu kotor. Apakah benar demikian? Kita tentu tidak bisa menghakimi bahwa politik itu kotor. Tidak ada politik yang kotor. Kita harus membedakan antara politik dalam artian hakiki dengan politikus yang sering menyalahgunakan kekuasaan politisnya. Tujuan politik adalah bonum commune, artinya kesejahteraan bersama (umum). Panggilan sejati seorang politikus adalah menjadi pelayan dalam mengusahakan kesejahteraan umum. Kesejahteraan umum harus menjadi cita-cita yang senantiasa dikejar dan diusahakan. Kesejahteraan umum makin mungkin diwujudkan bila keadilan, kemakmuran dan kedamaian terus menerus direalisasikan.
Gereja memiliki pandangan yang sama tentang citra politik. Politik dalam arti sesungguhnya tidaklah kotor melainkan pelaksana politik itu sendiri yang cenderung kotor. Untuk itu dibutuhkan suatu spiritualitas yang menjadi dasar hidup seseorang pada saat berkecimpung dalam dunia politik. spiritualitas yang dihidupi adalah spiritualitas Yesus sendiri dan dasarnya adalah bonum commune. Politik harus berpihak kepada manusia. Kesejahteraan umum tidak berarti mengorbankan kepentingan individu. Politik adalah sarana untuk mengangkat (humanisasi) hidup manusia. Inilah politik yang benar yakni membebaskan dan memerdekakan manusia dari segala bentuk penindasan, kekerasan politik, manipulasi, ketidakadilan, kebodohan dan kemiskinan dalam kehidupan bersama.

Umat Katolik Berpolitik
Kita tengok para tokoh Katolik pada dekade sebelum 1990-an yang sangat disegani oleh komunitas non -Katolik karena kejujuran dan integritasnya yang tinggi. Para politisi Katolik yang kini mulai menggeliat untuk tampil di percaturan politik menjelang pemilu 2009 perlu sejenak bercermin pada tokoh-tokoh yang memiliki integritas yang tinggi yang tentu saja mereka ini meneladani Yesus Kristus. Ia adalah I.J. Kasimo Hendrowahyono (1900-1986)[2]. I.J. Kasimo seorang Katolik sekaligus politikus tidak pernah melepaskan dari pikiran dan hatinya filosofi bonum commune dan secara tegas menjauhi praktik homo homini lupus (manusia adalah srigala bagi sesamanya). Ini semua terbentuk karena bimbingan hati nurani dan akal sehatnya sebagai seorang politisi Katolik. Ia meneladani Yesus Kristus yang berjuang juga untuk bonum commune. Satu motto yang Kasimo pegang dalam perjuangannya adalah “Salus Populi Suprema Lex”, keselamatan Bangsa merupakan hukum Tertinggi. Artinya kesejahteraan umum ia pahami dan hayati di atas segala-galanya dalam hidup bermasyarakat bersama. I.J. Kasimo sebagai warga negara Indonesia sekaligus umat Katolik bisa dikatakan tahu letak dan peranannya. Agama bagi dirinya memberi visi hidup, inspirasi, orientasi dan motivasi hidup pribadi dan hidup bermasyarakat bersama[3]. Kasimo tampil sebagai politikus yang berkepribadian dalam politik.
Figure pahlawan Negara dan Gereja Mgr. Soegijopranoto, SJ adalah pribadi istimewa yang pantas kita teladani pula. Ia mengungkapkan pro ecclesia et patria menjadi per Ecclesiam pro patria: menjadi Gereja untuk Negara. Jadilah umat Katolik yang sejati, raihlah masa depanmu sesuai dengan nilai-nilai Injili dan ajaran Gereja untuk mengabdi Gereja dan Negara[4]. Sebagai seorang Katolik, ia sungguh memberikan dirinya secara total demi perluasan kasih di muka bumi. Ia amat bijaksana dalam menempatkan diri sebagai warga Negara Indonesia sekaligus umat Katolik, seratus persen warga Negara dan seratus persen katolik. Tidak ketinggalan tokoh Fransiskus Xaverius Frans Seda. Ia banyak berkecimpung dalam dunia politik dalam rentang waktu yang panjang. Ia pernah berkarya sebagai menteri empat departemen dan ia dipandang sebagai tokoh awam sejati. Ia dikelompokkan dalam segelintir pemikir bersama kaum Klerus yang turut berkiprah dalam membangun negara dan gereja[5].
Keterlibatan masyarakat dalam dunia politik menjadi milik warga Negara pada umumnya. Tidak ada pembedaan antara agama, kedudukan, maupun status social. Salah satu tokoh Katolik yang cukup keras meneriakkan peran semua warga dalam dunia politik sama terlihat dari ungkapannya “janganlah seorang tidak bisa menjadi Presiden Republik Indonesia hanya karena dia tidak beragama Islam”. Ungkapan itu sebenarnya mau mengangkat soal persamaan hak bagi setiap warga Negara[6].
Mereka adalah tokoh-tokoh Katolik yang berani dengan lantang memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan diri sebagai warga maupun umat beragama. Mereka merasa peduli untuk membangun bangsa menjadi baik. mereka terusik untuk meneriakkan kesejahteraan bersam di atas kepentingan pribadi atau golongan semata.

Sense of History, Sense of sacrifice, dan sense of priorities
Sejenak kita bercermin dari para tokoh kita yang sungguh berani berjuang dalam dunia politik, yang mengemban kesejahteraan bersama sebagai prioritas utamanya. Keterlibatan mereka dalam politik menjadi suatu sikap yang pantas kita renungkan. Keterlibatan mereka memberi warna positif, kehadiran mereka memberi perubahan yang baik bagi jalannya suatu pemerintahan. Lantas bagaimana kita ambil bagian dalam kehidupan politik semacam itu? Kita tahu bahwa manusia adalah mahluk yang berpolitik. Mau tidak mau kita senantiasa bersentuhan dengan kehidupan politik. Lantas apa yang bisa kita buat? Mari kita bercermin dan bertanya kepada hati nurani kita bahwa politik itu sangat penting dijaga kemurniannya. Kesadaran betapa pentingnya kemurnian dalam politik berarti kita menempatkan diri dalam suatu kesadaran sejarah hidup yang penting untuk diperjuangkan. Pernah ada yang mengatakan bahwa seorang yang memiliki kesadaran politik, harus pula memiliki kesadaran sejarah (sense of history). Suatu kesadaran bahwa hari kemarin menentukan hari ini dan hari ini menentukan hari esok dalam suatu proses yang kontinyu. Dan yang menentukan penentuan-penentuan tersebut adalah manusia yang memberi bentuk pada kegiatannya. Sebab itu manusia adalah pelaku sejarah. Baik buruknya suatu proses sejarah tergantung kita, pelaku sejarah, bijaksana atau tidak dalam memperjuangkannya. Kesadaran sejarah ini bisa kita temukan dalam diri I.J. Kasimo, Mgr. Soegijopranoto, SJ dll. Mereka sungguh peduli terhadap bangsa dan Negara mereka. Kepedulian mereka memberi nuansa positif bagi perkembangan bangsa.
Perjuangan para tokoh dan kita semua umat beriman yang beritikad baik, tentu menjadi bukti nyata adanya keterlibatan sejarha. Namun idka berhnti di situ, bahwa kepedulian itu memerlukan perjungan dan pengorbanan yang tidak ringan. kesaradan betapa tidak mudahnya menjadi pirbadi yang bijaksana dalam dunia politik menempatkan manusia dalam suatu kesaaran pengurbanan (sense of sacrifice). Ternyata ki ora gampang. Menemukan kesulitan-kesulitan tiu kita diajak untuk bijsakana dalam memperjaungkannya. Kembali pada tjuan dan motivasi awal adlah demi bonum commune, kesejahteraan bersama. Inilah yang harus diprioritaskan. Jiak setiap orang yang bergerak dalam duia politik tidak peduli terhadap kesejahteraan bersama. Maka hasilnya adalah malapetaka bagi bangsa. Kesadaran sense of priorities inilah yang haarus kita kembangkan pula.
Akhirnya, kita semua adalah penentu sejarah itu. keterlibatan dan kepedulian kita, sebagai warga dan umat beriman, sungguh dibutuhkan. Negara Indonesia membutuhkan kearifan berpolitik dari pengelolanya. Untuk itu nilai-nilai moral mesti dibangun di atas merebaknya perilaku politik demi kepentingan sesaat. Tujuan negara harus diutamakan di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Intinya setiap actor/pelaku, termasuk kita, politik harus mengembalikan esensi politik kepada maknanya yang agung. Caranya adalah berpolitik tanpa dusta. Jujurlah dalam bicara dan berbuat demi kesejahteraan bersama (bonum commune), seperti mgr. Soegijopranata, SJ tegaskan bahwa tugas membangun Gereja serta bangsa tidak pernah selesai. Kekatolikan dan keindonesiaan selalu ditempatkan dalam proses yang dinamis. Kita semua diajak untuk memperjuangkan kebesaran Gereja dan sekaligus untuk tidak kenal lelah mewujudkan kejayaan bangsa dan Negara sebagai suatu panggilan suci yang mesti dihidupi[7]. (frtrie)


[1] http://www.balinter.net/Politik dan Godaan Kekuasaan
[2] http://citizennews.suaramerdeka/Kegairahan Politik Katolik.com
[3] Pak Kasimo dan Kita, Mingguan Hidup, Ed. Ulang Tahun ke 80 Bapak I.J. Kasimo, Jakarta, 1980.
[4] D. Gusti Bagus Kusumawanta, P, www.mirifica.net
[5] http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/frans-seda
[6] http://www.hariansib.com/2008/12/09

[7] Ed, Mikhael Dua, Febiana R. Kainama, Kasdin Sihotang, “Politik Katolik Politik Kebaikan Bersama”, Obor: Jakarta, 23